Siap Melangkah ke e-Katalog, Stuntingmeter Digital v5 Karya Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Masuki Tahap Akhir Hilirisasi
YOGYAKARTA — Inovasi alat kesehatan hasil karya civitas akademika Poltekkes Kemenkes Yogyakarta kembali menunjukkan progres signifikan. Alat deteksi dini gangguan pertumbuhan balita berbasis ultrasonik digital, Stuntingmeter Digital versi 5, kini resmi memasuki tahap akhir pengujian dan siap melangkah menuju proses hilirisasi industri.
Progres tersebut ditinjau langsung melalui agenda Monitoring dan Evaluasi (Monev) Konsorsium Riset Unggulan Perguruan Tinggi (KRUPT) 2026 yang digelar secara hybrid pada Jumat Pahing, 28 Agustus 2026. Bertempat luring di pabrik mitra industri PT Entri Jaya Makmur, Surakarta, serta terhubung secara daring melalui Zoom, Monev ini menjadi pijakan penting untuk memastikan kesiapan alat sebelum diproduksi secara massal.
Dalam pemaparannya, Ketua Tim Peneliti Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Prof. Dr. Tri Siswati, SKM., M.Kes., menyampaikan bahwa pengembangan Stuntingmeter Digital v5 telah mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) skala 7–9. Artinya, perangkat ini tidak hanya lulus uji laboratorium, tetapi juga telah teruji secara klinis di lingkungan operasional riil dan mengantongi Sertifikat Paten Sederhana serta User Manual resmi.

"Inovasi teknologi kesehatan tidak boleh berhenti hanya sampai di meja laboratorium. Produk ini kami rancang agar benar-benar aman, presisi, ramah pengguna, dan selaras dengan alur pelayanan kesehatan di lapangan," ujar Prof. Tri Siswati di hadapan tim penilai.
Reviewer Pusat dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si., mengapresiasi capaian riset ini. Turut hadir mengawal jalannya evaluasi, Tim Kerja Tri Dharma Perguruan Tinggi Ditjen SDM Kesehatan Kemenkes RI serta Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Dengan tuntasnya tahap Monev KRUPT 2026 ini, Stuntingmeter Digital v5 bersiap mendaftarkan diri ke e-Katalog nasional. Kehadiran alat ini diharapkan dapat menjadi amunisi baru bagi tenaga kesehatan di Puskesmas maupun Posyandu dalam menekan angka stunting secara lebih akurat dan terintegrasi di seluruh Indonesia.